Selasa, Juli 27, 2010
candikala3 ( 3 menit itu misteri )
Kututup laptopku, lalu berdiri dari kursi biru muda cafe bistro 160 hotel Grand millenium , berjalan pelan menuju lift yang akan mengantar ke kamarku....

Di dalam kamar, aku mengambil kursi dan menempatkannya di depan jendela kaca besar.
mencoba merenung dan menghayati lagi kata demi kata yang tertulis di layar laptop dipangkuanku.
Pada akhirnya aku memutuskan memandang warna langit malam kuala lumpur.......

3 menit.
termangu didepan kaca bening jendela besar untuk mengulang kembali segala kenangan tentangmu...
...
dan kuakhiri dengan helaan nafas panjang............


lalu aku berdiri sambil menyentuh remote untuk menutup tirai jendela kamar.
...belum seluruh tirai tertutup aku sudah membelakangi dan menjauh dari jendela.
..
...
yah,..
tirai sebentar lagi akan tertutup
dan tak ada lagi cerita tentang candikala.
usai........
posted by enggar adibroto @ 10:09   1 comments
Jumat, Juni 18, 2010
candikala2
sore ini aku datang lagi
ketempat dimana kamu dulu pernah disini, disuatu waktu selepas sholat jum'at.
...
disebuah taman banyak kolam yang sepi, aku menyusuri jalan dimana kamu pernah melewatinya.
Lalu berhenti disebuah lingkaran dimana kamu dulu pernah duduk.
....tanganku perlahan menyentuh dan mengelus perlahan tempat itu. berharap merasakan apa yang pernah aku rasakan,,
...dulu....disuatu waktu..selepas sholat jum'at.

"bapak mau pesan minum?"
suara perlahan yang mengejutkan aku keluar dari seorang gadis muda berseragam putih hitam yang berdiri tepat dibelakangku.
hmm..aku tidak mengenalnya, dan memang dia tak harus mengenalku.
"teh manis ,ada?" kujawab pelan
"segera pak"
.......
lalu aku duduk dilingkaran itu,memandang apa yang dulu pernah kamu tanyakan.
tentang tanaman itu
tentang taman itu
tentang kolam itu
...........
Dan dari balik asap rokokku,aku seperti melihat dirimu.
..

ah..
tiba tiba
aku merasakan kehangatan dalam tubuhku .bukan seperti terkena sinar matahari yang menerpa kulit, bukan....tapi seperti kehangatan dari dalam hati seperti ketika berdiri di tepi batas kerinduan.
..
gadis muda datang membawa nampan berisi segelas teh.
lalu ia meletakkan teh di sampingku.
"silahkan pak" wanita itu berkata sambil bergerak mundur
......
"sebentar" tiba tiba mulutku bicara begitu saja.

Sedikit terkejut wanita itu menghentikan langkah mundurnya.

"ya,pak?"

"katakan padaku, apakah kamu mengenalku?"

perlahan gadis itu memandang wajahku, tapi cepat ia kembali setengah menunduk.

"maaf,tidak pak"

aku tersenyum. lalu kubuka buku agendaku dan kuambil foto yang baru kucetak tadi pagi

"menurutmu, bagaimana wanita di foto ini?"

"maksudnya?" lirih dan ragu dia berkata.

"apakah ia cantik?"

tangannya perlahan menerima foto yang kuacungkan didepannya. mungkin dia menerimanya terbalik jadi harus sedikit diputar untuk bisa melihat wajah didalam foto itu.

tak lama senyumnya merebak. matanya sedikit berbinar

"ah..saya ingat...bapak yang datang bersama ibu beberapa waktu yang lalu ya?"

aku hanya tersenyum,
yah , sudah kuduga..kamu begitu mempersona sehingga lebih mudah dikenali daripada aku.
....
Ada tempat .
di ruang hati ini
bertulis namamu, yang sekarang ini sedang mempertanyakan tentang kata "kemungkinan" atas sebuah harapan.
dan aku tersudut dalam ketidakberdayaan...
..........
"tidak bersama ibu sekarang pak?" tanya gadis itu dengan nada polos.

butuh waktu beberapa detik untuk menjawab pertanyaan sederhana itu.
lebih karena sebenarnya aku ingin ingin menjawab jujur bahwa...yah..meski wanita itu tidak ada disini ...tapi hatiku sedang bersamanya...sekarang.

"tidak...ibu tidak bersama saya sekarang.." akhirnya hanya kata kata itu yang keluar dari mulutku..

jawabanku yang pelan dan sambil menunduk sudah cukup buat gadis itu untuk mengerti bahwa sudah saatnya ia meninggalkan aku.
..
kembali aku sendiri, menikmati kesunyian pilu.
......
ah...kerinduan ini...begitu menyakitkan.....
..
...

kesendirianku sore ini adalah sebuah proses dialogis antara aku dengan diriku sendiri,
sebuah proses diskusi dengan kebuntuan pada hasilnya. .......dead lock
!!!

Diskusi adalah diskusi...harus ada hasil walau tak melulu harus sepakat......
dan hasilnya adalah...
aku berdiri memandang ujung daun pohon karet itu,,,,,,,,

..........
sudah sore...
saatnya aku pulang
menunggu candikala datang

...
kembali ke kosongan hati...dan aku harus melewati dengan gagah berani.....

posted by enggar adibroto @ 10:01   0 comments
Rabu, Juni 16, 2010
candikala 1
"aku sekarang dikotamu......mau kau ajak jalan jalan kemana? "
.................
........
kalimat di inbox itu yang membawaku sekarang berdiri di sebuah gedung tinggi berwarna abu abu tempat kami berjanji bertemu.
...
Memasuki ruang yang sepi dan dingin membuat aku seperti berada dalam dunia yang terasing.
Tapi ada yang kusuka bila berada dalam kesunyian... Aku suka menikmati suara langkahku ..

..........tak - tak- tak...
suara tak - tak - tak itu mengingatkan aku pada peristiwa di masa laluku.
..
dulu..
ibuku adalah seorang penari jawa klasik yang masih mendapat pendidikan menari gaya kuno. Sebagai penari jawa kuno, beliau mempunyai semacam meditasi pada malam malam tertentu
..
Waktu itu aku masih SD, pada malam malam tertentu aku dibangunkan ibu.
Diatas meja belajarku sudah siap sebuah baskom air untuk mencuci mukaku, sebuah handuk kecil berwarna putih, dan secangkir teh hangat.
.........
Lalu dalam kesepian malam, tak ada suara lain selain suara malam.

Aku dituntun ibu untuk masuk ke pendopo di rumah kami, ibu sudah memakai kain batik, dan aku akan duduk bersila di bawah soko guru ( tiang penyangga atap berjumlah 4 ditengah pendopo ).dan hanya ada penerangan sebuah lampu petromaks satu yang ditaruh dilantai yang sudah disiapkan ibu sebelum membangunkan aku.
..
lalu ibu akan memberi aku sebuah tongkat kecil.
...
dengan bersila dibawah soko guru, aku pukulkan tongkat itu ke lantai, dengan tempo yang sama. ...tak...... -tak .....- tak....
..
dan kemudian ..ibu berdiri tepat ditengah tengah pendopo.memejamkan mata sesaat. lalu dengan sangat perlahan ibu memulai dengan membuat gerakan dengan tangannya baru kemudian menarikan sebuah tarian jawa klasik dengan gerakan yang sangat pelan dan halus... dengan iringan suara pukulan tongkatku...tak......- tak .....- tak...
...
........
setelah sebuah tarian selesai...ibu akan menari satu tarian lagi dengan gerakan yang lebih halus dan perlahan..tapi kali ini dengan mata yang ditutup sebuah selendang batik...
masih dengan iringan suara tongkatku....tak......tak......tak...dan setelah tarian ke dua itu selesai,ibu akan membuka selendang penutup mata lalu melihat kelantai. itu dilakukan untuk melihat apakah beliau sudah berhenti ditempat yang tepat. Karena beliau harus mengakhiri tarian itu di titik dimana beliau memulainya.
...
beliau melakukan ini untuk melatih wirogo,wiromo,wiroso ( gerakan,irama dan rasa) , sesuatu yang mutlak harus dipunyai seorang penari jawa klasik.
....
.........................
suara tak ---tak --tak sepatuku mengantarku ke lantai 2 gedung ini. Dan begitu lepas tangga aku harus melewati sebuah pembatas kaca. Disitu langkahku terhenti.
..
aku melihat bayangan wanita yang mengirim pesan di inbox ku itu di balik dinding kaca.
..
wanita itu berjalan ke kanan dan kiri mengamati hiasan dan cindera mata yang dipamerkan di ruangan itu...
..
seseorang di masa laluku itu sekarang berada di depanku berbatas kaca, berjalan seperti sedang trisik ( gerakan tari jawa klasik saat pindah tempat ) dan kiprah (gerakan tarian jawa klasik seperti gerakan burung berputar )
Tuhan......aku sekarang seperti melihat dewi amba menari diatas panggung awan keemasan, menunggu anak panah datang,menangkap dan meneruskannya ke dada Resi Bhisma yang akan mengantarkan ke pertemuan cinta sejati dan kebersamaan abadi ...........
Aku benar benar terpesona.....
....
tanpa sadar ujung kakiku ku angkat dan kuhentakkan di lantai hingga terdengar suara tak---tak--tak,,,sambil mataku tak lepas pandang dari wanita itu....
...
Badanku mendingin dan hidungku seperti mencium bau kayu sokoguru tempatku bersandar malam malam itu....
ibu.......anakmu sekarang sedang mengiringi seorang bidadari yang berjalan,tersenyum dan sesekali menyibak rambutnya yang jatuh di kacamatanya..............
.........
ketika akhirnya aku masuk ke ruang berbatas kaca itu dan ia melihatku senyumnya langsung merebak, mendekatiku dengan langkah yang berirama.
"hai" katanya sambil tersenyum.
"sudah berapa tahun kita tidak ketemu?"


aku hanya tersenyum. Dalam hatiku berkata
"jangan harap aku tahu berapa tahun kita sudah tak bertemu, sedang menghitung berapa jariku saja aku sudah tak mampu"
.sungguh...hatiku sudah benar benar dalam buaian selendang dewi amba.....

..............................
.................
.............

Sepanjang waktu bersama dia, aku sangat menikmati nada , warna suara ,cara menyibakkan rambut,senyum dan tawanya.. semua indah bahkan pada detailnya.
Sampai akhirnya..dalam keanggunan sang waktu yang berjalan begitu cepat, akhirnya pertemuan itu berakhir dengan jabatan tangan dan tebaran senyum................
..............
.........
Sesampai di kantor, duduk di kursi yang membelakangi jendela aku merebahkan punggungku...mataku melayang ke plafond tanpa fokus
entah mengapa..

rasanya ada yang kosong di sudut hatiku..seperti ada yang hilang. atau tepatnya, seperti baru saja ada di tengah hingar bingar keramaian dan tiba tiba mendadak semua orang menghilang. tinggal aku......sendiri.

hmm....sebuah kesepian yang benar benar mengiris dan menikam.

ah...
sudahlah...
aku terlalu berlebihan...
..
aku terlalu menganggap peristiwa pertemuan tadi istimewa, padahal bisa jadi baginya,ini hanya pertemuan biasa. Sama seperti ia bertemu dengan teman lainnya. Segala senyum dan keindahan tadi bisa jadi bukanlah diberikan secara khusus untukku..

...
....
Kuputar kursiku menghadap jendela, senja telah datang ..
dan hey...........ada candikala sore ini...
(candikkala adalah suasana dimana biarpun sudah sore tapi cahaya matahari masih terang,menciptakan suasana keemasan. beberapa tempat menyebutnya candik ayu)..
Ada banyak versi tentang candikala, tapi aku suka versi dari ibu. Dulu waktu kecil, ibu bercerita bahwa candikala terjadi karena bidadari sedang turun ke bumi, menyapa dan berbagi keindahan bagi orang yang mau keluar rumah pada saat itu..
....
ah,,,
aku tak mau keluar....
bidadariku sudah pulang................
posted by enggar adibroto @ 20:47   4 comments
Minggu, November 01, 2009
Tak ada lagi kesempatan
................
"kita berteman kan?"
suasana yang terbangun dinamis di sepanjang kami bicara tiba tiba menjadi stagnan saat dia ucapkan kalimat itu, seperti penghentian mendadak goresan sebelum sebuah lukisan mewujud.
"ini pertanyaan, penegasan atau permintaan?" kataku.
"ketiganya" dia menjawabnya dengan penuh kelembutan.
.......
Oke, meski bukan sebuah jawaban yang kuharapkan, tapi aku yakin ini diucapkan sebagai ujung dari sebuah proses. bukan jeritan saat ujung jari tergores.
...
Lalu waktu kami lalui dalam nuansa diskusi kecil meski sesungguhnya aku tak bisa lagi menikmatinya. Bukan "aku" rasanya bila menyerah begitu saja pada sebuah papan bertulis "dilarang masuk". tapi saat ini aku sedang tak ingin menjadi diriku sendiri.Aku menikmati menjadi sebuah object. Mengikuti permainan yang sejatinya sudah kutahu arah dan siapa nanti pemenang yang sebenarnya.
..
Inilah antiklimaks dari segala keindahan yang dimulai dar box chat di facebook yang menulis. "Apa yang kamu baca, mengapa tulisanmu sama dengan tulisanku?"
Lalu waktu bergulir membuka jalan begitu mudahnya buatku untuk mengenalnya.

Awal segala perkenalan kami sebenarnya tidak dimulai dengan sapa ramah..segala yang kulempar padanya ditangkap dengan lugas dan sedikit ketus..
Hmmm...kesombongan klasik seorang perempuan yang merasa bisa menghandle segalanya...dan aku tahu bagaimana menanganinya..
...
...
"kamu terlalu sombong untuk mengakui bahwa kamu menyukaiku"
Begitu katanya suatu waktu,
dalam hatiku aku bilang, benar mungkin aku sombong, tapi bukan kesombongan yang sampai aku malu mengakui apa yang terjadi di hatiku.
"aku tidak malu mengakui bahwa aku memang menyukaimu"
begitu kutulis dalam box chat..
...
Dharrr!!!!!!
...
Goblognya aku>>>
mengapa juga kutulis kata kata itu?!!...

bukan karena aku menyesal menyenandungkan nada putih kejujuran, tapi karena mestinya...belum saatnya aku ucapkan itu...
segala waktu ini, belumlah cukup buatku untuk mendalami apa yang sebenarnya ada di dasar hatinya.,aku baru saja melempar pisau pada orang yang aku tak tahu apakah ia menyimpan baja di balik bajunya....
.........................
............
...
Lalu cinta..
datang begitu saja di hatiku melalui tanda tandanya..
kerinduan......perhatian.......getar getar....kemeriahan hati..........
....
.......
aku luluh....
.......
.....
Tapi... sebelum cinta merebak, bahkan kuncupnya pun belum sempurna...ia mengatakan kata kata itu.
"kita berteman kan?"
...
hmmm.....
......
aku sama sekali tak di beri kesempatan.
..
Banyak pujian yang ia taburkan...tapi aku tahu, ia lakukan hanya agar aku tak terlalu sakit hati.........
hanya sebuah permen..agar aku tak menangis....
......
Yah,,,
Jangan kamu tanya, apakah aku masih mencintainya atau tidak, sudah tidak penting lagi. Aku bisa beri sejuta alasan mengapa aku bilang begitu , karena sebenarnya, cinta bukanlah sebuah tujuan, ia cara untuk saling membahagiakan.
memiliki?...
oh...itu bukan tujuan cinta....itu hanya untuk memudahkan cinta bekerja,..supaya kita lebih mudah pula untuk saling bisa membahagiakan...
maka bila kita bisa membahagiakannya..
kita telah mempersembahkan padanya sebuah kesejatian cinta yang sempurna....
.......
.........
begitulah bunga,..cerita papa dengan perempuan luar biasa yang sering muncul di TV itu...
sekarang tidurlah...
kamu harus segar saat ijab qobul besok pagi...
..
.............
.....
....
posted by enggar adibroto @ 11:56   0 comments
Sabtu, Januari 03, 2009
aku jatuh cinta

“ Berjanjilan… untuk tidak meninggalkanku “..

Begitu dulu foto itu bicara padaku…..

Mengarungi waktu dalam kegeriapan cahaya senja, aku menikmati wajah dalam foto dalam ruang hayal berbatas aura hati.

“jangan bergeser…, semilipun ..dariku..”

Kembali suara setengah berbisik keluar dari mulut diamnya

Bila hati adalah sebuah ruang, mungkin ia tercipta dalam kamar kamar, yang pada tiap sekatnya menyembunyikan rahasia didalamnya .

Sekarang aku sedang ingin menikmati sebuah rahasia yang bahkan pada sekatpun ingin kusembunyikan..

Tak mungkin..

Tapi aku ingin…

……………

“ kamu istimewa..,tak kutemukan apapun yang sepadan dibanding laki laki lain”

Jiwa ini serasa tatanan tangga awan menuju swarga sejati langit.

Tak ada lagi beban

Sedikitpun tidak..

…..

Lalu waktu, menggiringku menuju masa diawal kita bertemu, penuh senyuman tak ada kelabu mewarna. Melewati seluruh kulit kehidupan dengan sebuah kenyamanan factual.

..

Kamu tutup sebagian wajahmu dengan rambut saat kau acungkan tanganmu untuk kamu biarkan aku memegangnya

“ oh..kamu gingsul ya..” spontan aku bilang begitu saat kulihat ada kemeriahan dalam kecantikan wajahmu.

Tertawa tergelak itulah reaksi dari pertanyaanku..

Tawa itulah sesungguhnya awal dari semua warna merah muda dalam seluruh pandang hidupku..

Lalu hidup menjadi seperti roda gila. Berputar untuk memutar roda lain dan memutar roda lainnya lagi. Dan semuanya dalam alunan symponi dawai awan berwarna merah muda.. lembut. Begitu lembutnya hingga hanya orang orang yang dipilih kamajaya untuk memahami makna lemparan sampur kamaratih di sabetan tutupnyalah yang bisa memahami..

…….

“peluk aku sebelum kamu pulang, berjanjilah kembali datang”

Dalam tiap pelukan kita, selalu ada hati kosong yang hanya bisa terisi bila aku kembali.

Dan aku selalu memaknai arti dalam pelukan ini sebagai moment keindahan tersendiri.

..

Sebuah keindahan yang justru sangat terasa di saat suara detik adalah musuh utama.

Makin cepat laju jarum jam, makin menggila seluruh perasaan itu tiba, dan semuanya akan mengkristal menjadi bening tetes air mata yang mengalir begitu saja tanpa isakan.

….

Ya aku jatuh cinta

Pada sebuah keindahan yang merebak

Di taman hati

…….

posted by enggar adibroto @ 02:36   7 comments
Rabu, Desember 17, 2008
Gedung Berwarna Merah Bata

Saat dari kaca depan mobil mulai tampak ujung atap gedung itu diantara rerimbun daun pohon, ada getar terasa di ujung dada yang makin lama perasaan itu makin terasa menyesakkan ruang batin

……..

Tidak kulepas pandangku dalam kesesakan nafasku hingga ujung atap itu makin membesar dan membentuk sebuah bangunan berwarna merah bata.

Ada waktu..,mungkin sepersekian menit untuk memandang kembali gedung tinggi itu setelah mobilku terhenti suara mesinnya di halaman parkir depan gedung

Akhirnya..

Kubuka pintu mobil dengan menyertakan hembusan nafasku yang kulepas kuat kuat

kuberjalan di teras…

Hening..

Hingga sepatuku yang solnya penuh lumpur kering pun masih sempat terdengar suaranya

..

Saat aku memperhatikan bekas tapak sepatuku yang kukhawatirkan terlalu mengotori keramik putih bersih ini, aku melihat ada seorang perempuan muda duduk lesehan sambil mukanya serius membaca buku…

Diujung tangga teras ..

Dibawah pilar ..

( disitu dulu aku sering duduk…tidak untuk membaca buku…tapi merokok dan tertawa…dan telingaku seperti mendengar keriuhan yang dulu sering kudengar ….)

…….

..

Kembali aku menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya pelan pelan..saat melewati pintu utama..

..

Ada udara dingin menyentuh kulitku..

Bukan dari ac

Tapi dari sebuah perasaan yang aku sendiri kesulitan mendiskripsikan..

Sepi sekali loby ini..

Bahkan aku bisa mendengar nafasku sendiri

Makin membuat seperti terjebak dalam kesunyian yang sunyi

…..

…….

Ada orang tua di ujung ruang besar ini..

Walau ia membelakangiku ..aku tahu ia sedang menyapu..

Kakinya pincang

Kulitnya hitam dengan kerutnya yang tampak begitu berlipat..

..

Ia menyapu dalam kesunyian. seperti menikmati pagelaran mahakarya larasati

Begitu tekun..

Begitu kusyuk..

“ pak”……

Aku berusaha halus memanggilnya…

Bukan saja karena tak ingin membuatnya terkejut

Tapi juga aku tak ingin merusak kesunyian yang lama lama bisa juga kunikmati..

….

Orang tua itu menoleh..

Ada raut terkejut di rona mukanya..

“ kamu???….”

Hampir terlepas sapu ditangannya saat ia mengeluarkan kata itu..

“ ya..aku…, sudah lama sekali….” Aku menjawab

….

Kami saling memandang..

Sama sama menjelajah wajah lawan bicara sambil membayangkan bagaimana wajah itu 10-15 tahun yang lalu..

Lama kami saling memandang..

“ kamu mau melanjutkan lagi disini?.....” katanya perlahan

“ Ya..rencananya begitu..”

.kembali ia terdiam

Lalu tiba tiba ia kembali mengeluarkan kata kata dengan cepat..

“lantai 2, ruang ujung kanan, dekat tangga”

Diujung kalimatnya ia cepat cepat kembali meneruskan menyapu lantai, seolah tak peduli lagi denganku yang masih berdiri disampingnya..

….

Tak ada lagi suara keluar dari mulutnya

Diam

Seribu bahasa..

Aku menaiki tangga, disamping tempatnya menyapu...

Dari atas aku melihat dia sedikit mencuri pandang, tapi cepat cepat ia tundukkan kepalanya saat pandangan kami bertemu…..

….

………

Lantai 2..

Ruang ujung kanan..

Dekat tangga…..

…..

………

Berdiri aku di depan sebuah pintu

Kubenahi kancing atas bajuku

Lalu kuketuk pintu yang diatasnya ada sepotong kayu bertuliskan

“Ruang Magister Fakultas Teknik”

…..

……………………………..

..

Masih sempat kulihat di kaca .saat mobilku bergerak pelan melewati teras gedung itu diperjalanan pulangku…,

Orang tua penyapu berdiri diujung teras , bersandar pilar sambil memegang sapunya

Memandangku….

Sambil perlahan menurunkan topinya..

Perempuan muda yang tadinya membaca buku itu berdiri dan mendekatinya..mungkin ia ingin bertanya padanya.

Siapakah laki laki dengan sepatu penuh lumpur kering yang baru saja pergi itu?

Kupastikan dik…

Tak cukup waktu mendengarkan cerita tentang aku dari orang tua itu..

Bahkan sampai senja menutup dirinya dengan kelambu hitam…

Ceritanya hanya baru bagian kulit arinya..

………………

……………..

……………

Kupandang depan..

Kuhembus nafasku perlahan…

….

Akhirnya……….

Aku kembali……….

.......

..

posted by enggar adibroto @ 01:20   4 comments
Rabu, November 26, 2008
kebahagiaan bolong
Pak,
Sebenarnya aku ingin mengarang sebuah cerpen.
Sebuah cerpen yang berdasar sebuah kenyataan yang kulihat tadi malam jam delapan didepan sebuah pasar yang dikelilingi seng karena sedang dibangun.
Saat itu aku makan sate madura di warung tenda.bersama enam teman lainnya.aku tidak sendiri. jadi kesepian ataupun kesunyian bukanlah piranti hati.
Aku juga bukan dalam suasana yang sangat gembira, walau aku tertawa tawa. susah aku mengatakan padamu pak,
mungkin tepatnya. waktu itu aku dalam sebuah suasana kegembiraan donat. empuk dan bolong tengahnya.
...
tepat dalam suasana hati seperti itulah tiba tiba aku terhenyak, tercekat leherku bagai pilinan tak berujung, saat aku melihat pemandangan yang jelas nampak di depan mata...
...
seorang tukang becak..
masih paruh baya..
mendorong becaknya di jalan menanjak ..
berburu warna hijau traffict light..
dibantu anak perempuannya..
masih berbaju biru putih smp..
anak itu sedikit kewalahan mengimbangi laju becak bapaknya..
dari belakang tampak seperti menari dalam langkah setengah berlarinya..
dan ia melakukannya...
dengan menebar tawa..
...
pada pukul delapan malam...
..........
...
.
ya pak,..
pada pukul delapan malam..
..
.
begitu ngeres nya hatiku melihat peristiwa itu, hingga aku kesulitan menulis kata awal untuk membuat cerpen.
rasanya tak berani aku mereka reka cerita
untuk anak yang dengan keriangannya membantu bapaknya.
biarlah ia seperti apa yang kulihat..
biar tetap begitu..
....

...
aku tidak ingin bersyukur,pak
bahwa aku tidak menjadi tukang becak
dan anak perempuanku tidak membantu mendorong becak..
karena mungkin mereka justru jauh lebih bahagia ketimbang aku..
..
kebahagiaan mereka tampak seperti baja: kuat dan masif.
bukan kebahagiaan donat.
empuk dan bolong tengahnya..
...
..
...
ingin kusimpan saja peristiwa itu
dalam kenangan hati tak berbatas waktu..
.....
posted by enggar adibroto @ 05:10   2 comments
Senin, November 10, 2008
Jenuh

…….

Waktu masih pagi saat aku menemukanmu,matahariku

Walau sebenarnya,

Masih terlalu pagi untuk menyimpulkan bahwa itu adalah kamu.

Bisa saja bulan yang menyamar

Atau semburat fajar yang datang terlalu awal

….

…..

Sebuah puisi yang sedianya akan kubuat untuk sahabatku, mentok di angka lima baris. Hilang sudah kepekaan hati sebagai modal dasar membuat puisi. Sekarang aku malah terduduk dalam sebuah ruangan sempit yang dindingnya berwarna putih kusam. Hening dan bergema.

Memandang satu sisi dindingnya tiba tiba aku bisa menjadi penguasa atasnya.

Aku bisa bebas mereka reka cerita dan menentukan bagimana akhirnya pada dinding putih kusam itu.

Menggambarkan secara jelas seperti sebuah gambar dalam film layar lebar.

Tiba tiba aku merasa perlu bersahabat dengan dinding putih kusam ini.

ya , aku perlu menjadikan dinding ini sahabat, supaya aku bisa menuangkan segala keliaran pikiranku dalam bentuk visual di dinding ini...

..

tiba tiba.....
Aku bisa melihat gambar di dinding ini saat aku memaki maki anak buahku karena mencuri waktu sholatuntuk tidur siang..
Dasar Pribumi.

Setelah itu..

aku juga bisa melihat gambar ibuku yang semakin sepuh dan sendiri di rumah besarnya.
Membayangkan bagaimana beliau melwati hari harinya dalam kesepian


Aku jadi merindukan wanita perkasa itu..

Lalu..
Aku juga bisa melihat gambar bosku datang meminta laporan yang harus sudah ada di mejanya hari ini.

( Dari setumpuk laporaanku yang paling cepat di bacanya cuma angka di kolom kredit)

..

Ohh

Terlukis juga gambaran saat aku masih kuliah, berambut panjang, berteriak teriak.. Turunkan Soeharto!!!

..

luar biasanya dinding ini

aku juga bisa melihat keinginanku dan mimpi mimpiku.

punya perusahaan kontraktor sendiri yang besar, tinggal di rumah besar, yang juga punya halaman besar,
ada rumah kaca tempat ibu menanam bunga kalau beliau menunjungiku.

harus ada istall kuda di blakang rumah itu

mimpiku sejak kecil. Punya kuda sendiri yang berwarna hitam.

Aku ingin berkuda setiap pagi menjelang.

….

..

Pagi menjelang?

..

pagi?

.......


Ah mendadak aku ingin melanjutkan mengarang pusi untuk sahabatku yang tertunda tadi...

Kata “pagi” mengingatkan aku pada 5 baris puisi yang belum terselesaikan..

…..


..............
Bukankah sebenarnya sepi adalah konstanta keindahan pagi?
Tak kan pernah kau temukan keindahannya bila kau lewatkan rasa sepi itu..
..
matahariku,
Slamat pagi....
mari kita nikmati keindahan sebagai tikaman batinku kepadamu...
.....
.

Mentok lagi!!

Kampret!!!!!!!

Terhenti tanganku di keyboard, blank sudah isi kepalaku….

Melamun lagi

Memandang dinding lagi..

Bingung mencari bayangan yang mungkin bisa menjadi bahan inspirasi puisiku..

Begitu sulitnya membuat sebait puisi yang kuharapkan bisa indah

….

Tok tok tok..

Seseorang mengetuk pintu ruanganku..

..

….

“ya?” kujawab ketukan itu.

seorang anak muda, masuk dengan wajah yang capek..

“ kita ada masalah pak..”

“apa?”

“bucket excavator kita menghantam kolom utama..”

“ok, mari kita kelapangan….”

………..

…………….

Kutinggalkan laptop dengan layar menyala..

dalam sebuah ruangan sempit yang dindingnya berwarna putih kusam.

Hening dan bergema..............


Yang berkilau itu bukanlah emas ,

Itu bening embun yang menikmati keindahan sang sepi ...


.......

..........



.

posted by enggar adibroto @ 01:51   3 comments
Selasa, November 04, 2008
Dunia Berbatas Kaca
Didalam mobil di perjalanan antara kantor dan rumah , jam sepuluh malam,

Dulu ,waktu aku masih belum punya mobil, aku berfikir alangkah nikmatnya di dalam mobil saat panas membakar kepala, atau hujan menerpa muka. Tak perlu merasakan kenyang dengan asap knalpot,atau menggerutu saat dibelakang truk yang membawa puluhan babi di bak nya.

Setelah aku punya mobil,
Ternyata di dalam mobil itu ada nikmatnya dan ada tidak nikmatnya.
nikmatnya memang tidak terkena panas dan hujan, tapi tidak nikmatnya adalah, bila di dalam mobil ,memandang luar kaca, aku merasa menjadi pengamat pada sebuah dunia lain. Tak bisa menjadi bagian dari dinamika dunia itu, tapi hanya bisa menjadi pengamat.

Loh kan enak jadi pengamat..
Tinggal ngomong aja, menganalisa sekenanya, menyimpulkan pakai logika subyektif.bener salah urusan blakang.
Mbahmu kuwi…..
……

Paling menyedihkan apabila kita menjadi pengamat tanpa ada yang menanggapi, tanpa ada yang mendengarkan, bahkan bila tanpa ada yang mengerti.
Dan susahnya, bila aku di dalam mobil, aku seperti dipaksa untuk menjadi pengamat. Bukan aku ingin, tapi aku dipaksa…
Jadi kesimpulannya:
aku dipaksa tinggal dalam sebuah wilayah kesedihan
karena menjadi pengamat tanpa pendengar
….
….
Hey bung, ini jaman merdeka, tak boleh ada yang memaksa..
Jare sopo?!!!
……………

Dari dalam mobil, aku mengamati semua yang tertangkap mataku,
Ibu ibu yang naik di belakang tukang becak ( tempat penumpangnya penuh dengan sayuran)..
Orang gila yang tidur dalam kenyamanan di property orang lain
Anak anak pengemis yang terkantuk dan tanpa expresi mendekati tiap mobil yang berhenti..
Mobil mewah keluaran terbaru dengan pasangan muda yang cantik dan tampan
…..
Aku mengamati mereka
Dan kuanalisa serta kusimpulkan sendiri dalam putaran yang berbelit di otakku.
Mengapa kok bisa begitu..
Ah nasibnya jelek..
Ah yang itu nasibnya baik..
…….
Dalam sebuah kendali waktu, aku melakukannya untuk kesiaan.
Mereka akan tidak berubah, walau seribu kali aku menyimpulkan pengamatanku.
…….
Hanya berbatas kaca.
Tapi kami pada dunia yang lain…
………
……..
Ciiiiiiiiiiiiiiittttttttttttt!!!!!!!!!!
Aku rem mendadak mobilku saat tiba tiba ada sepeda motor berhenti didepanku..
……….
“kethek!!!!!”
Aku berteriak kencang sambil kubuka kaca mobil….
……
Interaksi pertamaku dengan dunia luar kaca hari ini kubuka dengan makian..
……
Yo wis ben……
posted by enggar adibroto @ 09:23   2 comments
Minggu, Oktober 26, 2008
detik detik menjelang
tinggal semalam pernikahanku...
saat banyak mata mengerling, senyum menggodaku
anak kecil berlari lari. ibuku yang sibuk mengatur dapur, bapakku yang banyak tertawa menemui tamu tamunya, riuh suara musik dari pengeras.
aku merasa sepi............
..........................
.....

bukan lagi ruang kosong yang kurasakan..
tapi justru kesepian yang sebenar benarnya sepi
jujur , aku takut mendeskripsikan perasaanku ini sebagai sebuah " keraguan"
mampukah aku...
menjadi istri ..

selama ini yang kulihat dari yang kulihat di depan mataku
ibu dan bapakku. mereka suami istri, komunikasi mereka, interaksi mereka, adalah sebuah proses yang terjadi dari sebuah kepentingan ataupun keharusan.
bila bapakku memberi uang pada ibuku, itu karena keharusan ( atau kepentingan ), bila ibuku menyiapkan makan pagi untuk bapak itupun karena keharusan ( atau kepentingan). Mengapa aku katakan begitu, karena tak ada senyum, tak ada ciuman, saat proses itu dilakukan, artinya tak ada dasar cinta mereka melakukan itu.

begitu sederhana aku menyimpulkan?
ya.
mengapa?
semua kunilai dari visual.

Seperti romo Mangun bilang pada buku "burung burung manyar'. ada perbedaan antara prilaku dan image.
Dan orang akan menilai cepat pada image, dan butuh proses pendalaman untuk menilai prilaku.
artinya . visual memegang peran penting, karena visuallah yang paling cepat untuk membentuk image.

bila ada suami memberi istrinya uang dengan senyum dan sebuah kecupan di dahi, takkan butuh lama , bahkan satuan detikpun trasa begitu lambat untuk menyimpulkan ada cinta diantara mereka.
sebaliknya.
Bila suami memberi uang pada istri dengan tanpa melihat, dan istripun menerima dengan membuang muka.
tak perlu kujelaskan, bagaimana seharusnya kalian menyimpulkan.

Padahal warna pink pada sprei ranjang pengantinku, melambangkan warna cinta. ada gapura berhiaskan pohon tebu di tempat masuk tamu bermakna Antebing Kalbu = mantabnya kalbu ( bernuansa cinta). ada hiasan pohon pisang yang berbuah bermakna, sekali saja sampai mati ( pohon pisang hanya berbuah sekali ), juga bernuansa cinta. banyak simbol simbol di acara jawa, semuanya bermakna cinta. artinya: semestinya perkawinan menyandarkan diri pada CINTA. bukan pada kewajiban, bukan pada keharusan, jauh dari rasa kepentingan.
hanya CINTA.

bisakah?

________________________________________________

Rising Time

My wedding time stay overnight ...
while many eyes squint, smile twitted me
children ran flee. my mother is busy managing the kitchen, my father welcome the guests laughing, boisterous sound of the music.
I feel lonely ............
..........................
.....

i do not feel more blank space ..
but the fact that the real truth lonely quiet
honest, I'm afraid heard of this plan as a "doubt"
could i
as a wife ..

during i saw in front of the eyes
mother and father. they are husband and wife, their communications, their interaction, is a process that occurs from an interest or obligation.
when my father gave my mother the money, because the obligation (or interest), when my mother to prepare breakfast for fathers Hobbes as a requirement (or interest). Why do I say so, because there is no smile, no smell, while the process is done, meaning there is no basis to make them love it.

I conclude that simple?
yes.
why?
i size up all of the visual.

As ROMO Mangun on the book "burung burung manyar. There is a difference between behavior and image.
And people will quickly assess the image, and need a procces to assess behavior.
means. visual plays an important role, because visual the most quickly to form the image.

when there is the husband gave his wife money to smile and a smacker on the forehead, not need a long time, even a single second is so slow to conclude there is love between them.
vice versa.
When the husband gives money to the wife without the view, and the wife receive by removing the face.
i don't need to tell you, how should you conclude.

Even the color pink sheets on the wedding bed, symbolizing the color of love. there is a gate from sugar cane (tebu) where guests enter, meaningful Antebing Kalbu = firmness 0f heart (nuances love). there is a banana tree ornaments that meaningful, just once to die (banana trees bear fruit only once), also nuanced love. many symbols in the symbol of the event, this all means love. means: marriage should rest on love. not the obligation,far from the interests of taste.
only love.

can it?
posted by enggar adibroto @ 04:30   3 comments
akhirnya aku menikah

akhirnya.....



kutrima nikahnya pangestu notonegoro bin adianto hadinotonegoro dengan sisca feri hidayati binti slamet wijarnako dengan mas kawin..........., suara itu seperti mengalun tidak bermakna apa apa. seperti saat aku nonton sinetron, tak ada getar , tak ada perasaan merinding. Padahal kata kata itu adalah moment peralihan statusku. aku berharap ada getar sehingga aku bisa selalu mengingat . tapi tak pernah ada. aku mencari cari disudut hati. tetap saja tak ada. ruang kosong, ruang hampa, dinding yang kaku, justru tampak begitu jelas.

kusimpulkan.....
aku menikah karena memang sudah seharusnya menikah.
sebagai bagian dari tuntutan sistem sosial.
usiaku sudah cukup
pekerjaan ada.
pacar ada.
apalagi?...
.......
aku menikah karena memang seharusnya sudah menikah,,,
entah dimana cinta sekarang berada...
..........

aku ikuti prosesi pernikahan jawa satu demi satu dengan seksama..
bukan aku ingin menghayati
tapi lebih karena aku sedang ditonton ratusan mata
bila salah, seumur hidup orang akan membicarakan, dan selama itulah orang tuaku akan terbebani dengan perasaan malunya. segala kemewahan yang berlebihan ini, akan hancur dalam sedetik kesalahan yang kubuat.
.....
jadi bila aku tersenyum saat aku siram kaki suamiku sesaat setelah menginjak telor ayam, itu bukan karena senang, tapi demi konsumsi publikasi. bila aku tertawa kecil saat suamiku menyuapiku dengan nasi kuning, itu bukan karena aku gembira, tapi demi dokumentasi, bila aku terisak isak saat sungkem orang tuaku, itu bukan karena aku benar benar terharu, tapi kulakukan demi kesempurnaan upacara..
.....
banyak demi..., tak ada satupun yang demi cinta..
......
..
akhirnya..
usai semua sandiwara upacara yang semestinya aku fahami sebagai sebuah prosesi ritual bermakna filsafat . tak satupun yang nyantol di otakku makna filosofisnya.
kujalani..
karena memang semestinya harus kujalani..
aku salami teman dan sahabat..saat mereka pamit pulang..
taburan senyuman..dan tertawa kecil kulakukan saat mereka berpamit dan menggoda...
dan semuanya masih demi menyenangkan mereka yang datang..
....
bahkan di detik terakhirpun..
aku melakukan bukan demi cinta....
......
artinya...
maaf kan aku bapak ibu dan suamiku
aku melakukan upacara pernikahn ini
tak satupun demi cinta
posted by enggar adibroto @ 04:07   1 comments
Sabtu, Oktober 25, 2008
halte bus

HALTE BUS

DEPAN MALL

15 menit 25 detik yang memalukan

12.35

Di halte bus di depan mall siang itu….

Panas mengahajar tiada ampun kepalaku, tak hanya rambut saja, tapi seluruh kepala, bahkan sampai ke dalam - dalamnya. Sulit mungkin membayangkan bagaimana isi kepala terbakar. Tapi sangat mudah merasakannya. Bibir rapat malas bicara, kering tenggorokan, pikiran melayang kemana mana, kadang ingat rumah, kadang ingat makanan, kadang membayangkan andai jadi kaya,punya mobil jadi tak perlu lagi menunggu bus di halte yang kumuh, kadang pikiran malah blank begitu saja, tidak mikir apa apa.

itulah tanda tanda otak yang sudah mulai terbakar……..

Hampir setiap hari aku menunggu bus di halte ini. Dan hampir selalu pada jam seperti ini..

Tak ada perjanjian atau MOU, tapi hampir setiap hari, pada jam sepeti ini pulalah aku bertemu dengan orang orang yang sama di halte ini

Orang orang yang sama

Menunggu bus yang sama

Di halte yang sama

Di jam yang sama.

Ada 4 orang yang sering bertemu di halte ini,

Seorang pegawai negeri nakal.

Kutahu pegawai negeri karena seragamnya, kubilang ia nakal, karena jam segini sudah pulang. Selalu ber sms dengan dering yang distel getar. cara memakai bajunya selalu rapi dan wangi, tapi dari kwalitas sepatu dan jam tangannya, aku yakin ia tak punya meja di kantornya.

Seorang ibu gendut,

yang selalu membawa payung dan tas besar plastic yang sudah kotor, entah apa isi tas nya, tapi yang tampak palibg atas selalu sebungkus krupuk berwarna putih. Wajahnya tampak lelah, mungkin beban hidupnya terlalu berat.

Anak muda

Mungkin ia mahasiswa, selalu membawa tas gendong di punggungnya yang tak pernah tampak penuh. Mungkin dalam tas nya cuma sebungkus rokok yang isi dan bungkusnya bermerk beda, sebuah buku tulis, sebuah bolpoint, sedikit ganja. Banyak kantong di tas nya, tapi tampaknya semuanya kosong. Seperti otaknya…

Dan aku…

Pengangguran yang sudah 4 bulan menyusuri jalan kota ini, hanya halte ini yang bisa menjangkau kontrakanku sekali jalan. Halte ini pula kujadikan pos ku untuk pulang.

Aku biasa berangkat dari kontrakan jam 8 dan pulang jam 12, biar aku pengangguran, aku berusaha tertib.

Ibarat halte ini adalah sebuah rumah, kami ini adalah tamu,

Dan tuan rumahnya adalah seorang tua yang slalu duduk di lantai halte,bersandar di dinding dengan wajah kotor , bajunya slalu dimasukkan tapi bukan baju yang bersih dan ada robek di bagian ketiaknya,

Ia di halte ini sudah lama, bahkan saat aku masih mahasiswa, aku sudah sering melihat orang tua ini.

Ia kurang waras, kerjanya cuma duduk dan bersandar, sambil mengisi buku teka teki silang, tak pernah bicara, kadang terdengar suara seperti lenguhan, sesekali mengusap air liurnya yang terus saja menetes dari mulutnya.

Kadang ia tertawa sendiri, kadang tidur di lantai halte. Tapi yang menjengkelkan, kadang ia suka mendekati kami sambil membawa buku TTS nya dan pulpen, menyorong nyorongkan ke kami sambil melenguh.

Mungkin maksudnya ia bertanya. Tapi kami merasa terganggu, jujur saja kadang juga jijik. Ibu gendut itu slalu buru buru menjauh dari halte kalau orang tua itu mulai mendekatinya. Pegawai negeri itupun juga begitu, bahkan kadang sambil meludah. Anak muda dengan tas gendong itu malah pernah kulihat mendorong orang tua itu secara kasar hingga ia terjatuh, dan aku,? aku malas menyingkir, jadi paling mudah kubentak saja orang tua itu agar menyingkir…,

12.45

Bus belum juga datang.

Otakku mungkin sudah matang nyaris gosong karena kepanasan.

...

di seberang jalan depan halte bus, tampak seorang wanita cantik menoleh kanan kiri.

Tiba tiba wanita itu menyeberang jalan. Dan bergabung di halte kami.

Cantik wanita ini. Dari. Kulitnya, bajunya, dan wanginya, nyata sekali ia dari spesies orang kaya.ia mungkin sudah berumur 35-40 tahun, tapi gurat kecantikannya jelas menunjukkan ia lahir dari keturunan pilihan.memakai baju model sederhana ,tapi dengan warna sedikit berani, kulitnya begitu halus seperti mainan.

Dengan ketenangan yang luar biasa dan seperti tampak terlatih untuk ditonton orang, ia berdiri di halte ini.

………………

Si pegawai negeri tampak beberapa kali merubah gayanya berdiri sambil sesekali melirik wanita ini.

Anak muda bertas gendong itu seperti tiada henti memandang wanita ini, sedikt melongo mulutnya.

Ibu gendut itupun beberapa kali melirik tapi dengan wajah dingin.

Aku? aku terkesima, sedikit gemetar, dan mungkin juga sedikt nafsu.

…………

………………….

Tiba tiba ada suara lenguhan…

Orang tua tuan rumah halte ini berdiri.

Sambil menggumam tak jelas, berjalan pincang , ia mendekati wanita cantik itu…

Kami berempat tersenyum…

Pasti wanita cantik ini akan terbirit birit lari,minimal menjerit lah..

3 langkah lagi orang tua itu akan sampai disamping wanita cantik itu

2 langkah lagi..(ahh, aku membayangkan ia ketakutan dan reflek memelukku..)

1 langkah lagi ( jantungku berdegup kencang, menanti moment lucu yang mungkin sebentar lagi akan terjadi)

Dan…………

………

“ hey, .. ya ?” wanita itu bicara dengan nada tenang dan dengan senyum yang lebar.

Kami terperangah

…\

Orang tua itu melenguh lagi

“oo, kamu mau isi tts?” kembali terdengar suara wanita itu, masih dengan nada yang ramah.

Terdengar orang tua itu melenguh lagi

“ kamu ingin aku membantumu? “ Wanita itu mengucapkannya dengan nada lembut dan ceria.

“ ok, kita mulai dari mana? Bagaimana kalau dari 3 mendatar, sungai di Kalimantan timur, M..Mahakam, coba tulis mahakam….oo, kamu ingin aku yang menulis? Baiklah, ma – ha – kam., sudah? Mari kita lihat menurunnya…..”

Dan tak lama kemudian, mereka seperti asyk dengan kegiatan mengisi tts itu.

Seperti 2 orang kawan lama yang asyk dengan sebuah kesibukan tunggal.
...
..........

Kami berempat saling memandang..

dadaku seperti ada rasa penuh

….

12.50.

Tiba tiba ada mobil BMW warna merah berhenti di depan halte, wanita itu melihatnya, dan tak lama terdengar suaranya.

“sudah dulu ya?..suamiku sudah datang, kapan kapan k ita bisa isi tts lagi ,aku pulag dulu ya “ ramah dan halus ia mengucapkannya, masih sambil tersenyum ia sedikit berlari masuk ke mobil merah itu, dan melaju pergi.

……..

………….

Kami semua di halte terdiam,

Hanya orang tua itu yang melenguh dan duduk di lantai halte.

…..

25 detik kemudian…

Bus datang.

aku masuk

aku duduk

…………

Ada yang lain di hatiku…

Seperti rasa yang tak menentu..

..

………………

…………………………..

……………………………………………………

Siang besoknya, jam yang sama seperti kemarin kemarin, aku berjalan menuju halte .

Masih seperti biasanya pula, panas membakar matang otak. Menyebabkan bibir rapat malas bicara, kering tenggorokan,

Dan masih juga aku melihat orang orang yang biasa bersamaku menunggu bus..

Hanya ada yang kurang

Tak kulihat lagi orang tua itu

……………

……

Orang tua itu sudah meninggal

Ketabrak bus saat ia mengambil lembar tts yang terbawa angin di jalan..pagi tadi

……

……

Bising suara deru mesin tiba tiba hilang , bumi terasa sunyi,

tak kudengar suara sedikitpun

hanya ada satu suara tunggal terdengar…

bening seperti suara embun jatuh di ujung daun..

…….

Tapi aku tak tahu itu suara apa..

..

………………………….

…………………..

Tuhan sedang menghukumku…

Dengan tidak memberiku waktu..

Untuk memperbaiki diri…..

……………………………………….

0kt0ber 2008

posted by enggar adibroto @ 10:26   1 comments
<
kenali lewat mata hati
Foto Saya
Nama:

Dari dunia baja dan beton, aku ingin belajar menulis

tatas titis
laci lemari
sambel bawang
"Kalau rumah bagus aku belum punya, tapi kalau nasi putih panas mengepul, sambel bawang dengan jlantah, tempe goreng setengah matang,dan secangkir teh hangat aku selalu punya........... kuharap kamu nyaman saat singgah disini......".
Sumur Kawruh
© Cerpen Enggar Adibroto